Tentang dia yang datang terlambat




Kali ini rasanya aku tidak punya alasan untuk menyalahkan waktu. Waktu yang telah membawaku datang begitu terlambat. Meskipun aku sudah bergegas, namun ternyata kereta tujuanmu berangkat lebih cepat tanpa pemberitahuan. Maka aku pun harus tetap menuju. Mau tidak mau, dan harus tanpa kamu. Dan ketika aku telah berada dalam kereta lain, kemudian kita berpapasan di jalur yang beriringan tapi tidak bersinggungan denganmu, apa yang kau rasakan?

Kau akan mencaci waktu? Menangisinya, memohon-mohon supaya dia kembali?



Tidak. Kau dan aku tidak akan melakukannya. Tidak berguna menyalahkan waktu dan satuannya yang bernama cepat dan lambat. Dan seperti sepakat, maka akan kita rayakan siang dan malam yang seolah datang merambat.

Lalu kita akan saling memandangi. Dari dua gerbong yang terpisah. Sambil membentuk serangkaian kata di udara, berharap semoga aku dan kamu bisa saling membaca. Atau mungkin meniup kaca jendela, mengembusakan nafas di atasnya, kemudian meninggalkan sedikit jejak di sana, yang mungkin tidak kentara, namun tetap ada, karena kita berdua berdoa semoga debu tetap menebalkannya.

Dan pada selasela jeda, aku akan memesan secangkir kopi. Membenarkan dudukku, dan masih tetap di sana, menatapmu dari balik jendela, menyeduh kopi dari cangkir bermotif sama. Sepertinya kemudian kita terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku mencoba memeras otak, berupaya menemukan rumus melawan hukum kecepatan. Berharap jarak dan waktu tidak saling dibagi, melainkan dikurangi. Sehingga mungkin tadi aku sempat menyusulmu. Lalu, kamu. Seperti teringat sesuatu yang pernah kapan lalu kau ceritakan padaku. Tentang sebuah sinema yang tak henti-hentinya kau bahas hingga berbusa. Rumah Danau. Katamu, kau ingin membangun sebuah rumah danau. Dan kau akan tinggal 2 tahun lebih cepat dari 2 tahunku. Dan dengan sedikit keajaiban, kita akan bertemu di tahun yang sama. Tanpa harus ada yang lebih cepat atau terlalu lambat. Katamu ini hanya sekedar tentang matematika sederhana.

Dan kita akan tersenyum pada saat bersamaan. Meletakan sendok pada tatakan gelas dan saling memandang. Tentu saja masih dengan udara sebagai perantara. Aku ingin mengucapkan sesuatu. Dan demikian pula kamu. Tapi tetap saja, bukankah kita tidak pernah bisa menandingi kecepatan waktu?

Keretamu segera berangkat.

Pada jalur yang bersisian namun tidak pernah saling bersinggungan.

Kemudian pada perantara udara yang semakin meperlebar arah, aku dengar suaramu.

Karena kamu adalah dia yang mengapa datang terlambat?

*untuk sweetA


Read More ..

Bukukan Blogmu




Ketika saya tengok kapan terkahir kali saya posting di sini, ternyata sudah hampir satu tahun yang lalu. Rasanya memang sudah terlalu lama meninggalkan tempat yang memberi andil begitu besar untuk membuat saya tumbuh.

Ah, saya rindu berada di sini.. :)

Rindu yang bersambut sama ketika saya mendapat tautan catatan dari seorang teman tentang even Book Your Blog, Bukukan Blogmu, yang diadakan oleh Leutika Prio

Bukannya apa-apa, tapi rasanya pasti sangat menyenangkan jika kita bisa berbagi lebih banyak dengan orang lain melalui apa telah kita alami, apa yang pernah kita tulis, dan karena itulah lewat even ini, I hope that it would be...:)


Read More ..