bukan tentang perpisahan

ketika pada akhirnya saya memutuskan untuk tidak lagi menulis di blog yang selamanya akan ada di hati saya.

ini blog  pertama saya yang saya buat tahun 2009 kemarin. di sela-sela kejenuhan saya bekerja di sebuah perusahaan swasta yang seringkali saya rindukan sampai sekarang. 


blog dengan luapan emosi yang berlebih. dengan banyak ungkpan cinta dan benci di dalamnya. dengan banyak semangat dan rasa lelah. 


blog yang pada akhirnya, memaksa saya untuk tidak lagi menumpahkan segalanya di sini. pada satu waktu, akhirnya saya tiba pada stu titik. titik dimana saya harus mengakhiri kemanjaan perasaan saya. dan satu waktu yang telah lalu, telah mencatatkan keberhasilan saya. :)


pada akhirnya ini bukan perpisahan yang terlalu terlambat. sebab memang sudah hampir satu tahun saya memiliki blog baru. blog yang isinya pun masih terlalu berlebihan. yang pada satu saat nanti mungkin saya juga akan berada pada satu titik yang sama, ketika saya ingin mengakhirinya.


tapi saya belum sampai pada titik itu.. belum.. 


jadi, jika Anda berkenan,mampirlah sekali-kali ke blog yang penuh keluhan :)


http://philosofay.blogspot.com


love,
Fay

Read More ..

Tentang dia yang datang terlambat




Kali ini rasanya aku tidak punya alasan untuk menyalahkan waktu. Waktu yang telah membawaku datang begitu terlambat. Meskipun aku sudah bergegas, namun ternyata kereta tujuanmu berangkat lebih cepat tanpa pemberitahuan. Maka aku pun harus tetap menuju. Mau tidak mau, dan harus tanpa kamu. Dan ketika aku telah berada dalam kereta lain, kemudian kita berpapasan di jalur yang beriringan tapi tidak bersinggungan denganmu, apa yang kau rasakan?

Kau akan mencaci waktu? Menangisinya, memohon-mohon supaya dia kembali?



Tidak. Kau dan aku tidak akan melakukannya. Tidak berguna menyalahkan waktu dan satuannya yang bernama cepat dan lambat. Dan seperti sepakat, maka akan kita rayakan siang dan malam yang seolah datang merambat.

Lalu kita akan saling memandangi. Dari dua gerbong yang terpisah. Sambil membentuk serangkaian kata di udara, berharap semoga aku dan kamu bisa saling membaca. Atau mungkin meniup kaca jendela, mengembusakan nafas di atasnya, kemudian meninggalkan sedikit jejak di sana, yang mungkin tidak kentara, namun tetap ada, karena kita berdua berdoa semoga debu tetap menebalkannya.

Dan pada selasela jeda, aku akan memesan secangkir kopi. Membenarkan dudukku, dan masih tetap di sana, menatapmu dari balik jendela, menyeduh kopi dari cangkir bermotif sama. Sepertinya kemudian kita terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku mencoba memeras otak, berupaya menemukan rumus melawan hukum kecepatan. Berharap jarak dan waktu tidak saling dibagi, melainkan dikurangi. Sehingga mungkin tadi aku sempat menyusulmu. Lalu, kamu. Seperti teringat sesuatu yang pernah kapan lalu kau ceritakan padaku. Tentang sebuah sinema yang tak henti-hentinya kau bahas hingga berbusa. Rumah Danau. Katamu, kau ingin membangun sebuah rumah danau. Dan kau akan tinggal 2 tahun lebih cepat dari 2 tahunku. Dan dengan sedikit keajaiban, kita akan bertemu di tahun yang sama. Tanpa harus ada yang lebih cepat atau terlalu lambat. Katamu ini hanya sekedar tentang matematika sederhana.

Dan kita akan tersenyum pada saat bersamaan. Meletakan sendok pada tatakan gelas dan saling memandang. Tentu saja masih dengan udara sebagai perantara. Aku ingin mengucapkan sesuatu. Dan demikian pula kamu. Tapi tetap saja, bukankah kita tidak pernah bisa menandingi kecepatan waktu?

Keretamu segera berangkat.

Pada jalur yang bersisian namun tidak pernah saling bersinggungan.

Kemudian pada perantara udara yang semakin meperlebar arah, aku dengar suaramu.

Karena kamu adalah dia yang mengapa datang terlambat?

*untuk sweetA


Read More ..